_________________Selamat Datang di Blognya Bang Udin_________________

Kamis, 06 Desember 2018

MAKALAH ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI SEBAGAI MATERI DAN MEDIA PENDIDIKAN ISLAM


PENDAHULUAN

Peran Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu  pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan.   Kedua, menjadikan Syari’ah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi  pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat (pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam).
Pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Ada banyak cara untuk beribadah kepada Allah SWT seperti sholat, puasa, dan menuntut ilmu. Menuntut ilmu ini hukumnya wajib. Seperti sabda Rasulullah SAW:
طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ[1]
Artinya : " Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim" [ H.R. Ibnu Majah ]

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didasarkan atas fakta-fakta di mana pengujian kebenarannya diatur menurut suatu tingkah laku sistem. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu.
Ilmu pengetahuan menurut Horton, P, B., dan Chester L, H merupakan upaya pencarian pengetahuan yang dapat diuji dan diandalkan, yang dilakukan secara sistematis menurut tahap-tahap yang teratur dan berdasarkan prinsip-prinsip serta prosedur tertentu.[2]
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusun sebagai berikut:
1.      Ontologis, dapat diartikan sebagai hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahannya, dengan kata lain ontologis merupakan objek formal dari suatu pengetahuan
2.      Epistemologis, dapat diartikan sebagai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan
3.      Aksiologis, merupakan asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.[3]
Secara etimologi, istilah “teknologi” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris; “technology’. Menurut Leksikon,  dikutip dalam bukunya Abdurrahman, technology berarti: “1. Scientific study and use of mechanical arts and applied sciences, eg. Engineering. 2. Application of this to practical tasks in industry, ect: recent advances in medical technology, technology of computers.”[4]
Dari definisi Leksikon, dapat diambil beberapa pemahaman. Teknologi adalah “sciencetific study” yang berarti kajian, telaah, penelitian yang sistematis, ilmiah. Dengan kata lain tekhnologi adalah “ilmu” dalam pengertian yang sangat luas. Kedua, teknologi adalah “mechanical arts”; alat-alat bermesin. Ketiga, teknologi berarti “applied science”; ilmu-ilmu terapan atau ilmu-ilmu praktis. Keempat, teknologi berarti “application of this to practical task”; aplikasi dari ilmu dan alat-alat untuk kepentingan atau pekerjaan harian. Dengan demikian teknologi bukanlah sekedar alat-alat bermesin. Lebih dari itu, teknologi adalah ilmu dan bagaimana alat-alat serta ilmu tersebut diaplikasikan.
Berikut ini definisi teknologi menurut para ahli :
Menurut Prayitno dalam Ilyas (2001), teknologi adalah seluruh perangkat ide, metode, teknik benda-benda material yang digunakan dalam waktu dan tempat tertentu maupun untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Menurut Jaques Ellul memberi arti teknologi sebagai ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia”.
Menurut Rois Mahmud, teknologi merupakan produk sains atau (ilmu pengetahuan), dengan teknologi sesuatu yang sulit akan mudah, sesuatu mustahil yang dilakukan menjadi mungkin. Teknologi selain merupakan aktualisasi ilmu pengetahuan, juga sebagai wujud peradapan manusia dengan zamannya. Teknologi yang dihasilkan suatu bangsa tidak selalu sama dengan yang dihasilkan oleh suatu bangsa yang lainnya terhadap pengembangan ilmu, semakin tinggi kepedulian suatu bangsa terhadap perkembangan ilmu, semakin tinggi juga pencapaian teknologinya. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan.[5]
Wikipedia.org  mendefinisikan teknologi merupakan perkembangan suatu media / alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah.
Kesimpulannya dari keduanya di atas adalah ilmu pengetahuan mempunyai teori-teori atau rumus-rumus yang tetap, dan teknologi merupakan praktek atau ilmu terapan dari teori-teori yang berasal dari ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi saling mempunyai hubungan. Jika tidak ada ilmu pengetahuan, teknologi tidak akan ada.

B.     Pengertian Pendidikan Islam
Pengertian Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai cita-cita Islam karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya. Dengan istilah lain seorang muslim yang telah mendapatkan pendidikan Islam harus mampu hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagai yang diharapkan oleh cita-cita Islam. Sedangkan pengertian pendidikan Islam dengan sendirinya adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah. Oleh karena itu Islam mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia muslim baik duniawi maupun ukhrawi.[6]
Pendidikan Islam, menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Tomy al-Syaebani, diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikanya yang perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islami.[7] Dan suatu pendidikan itu dinamakan pendidikan Islam apabila pendidikan itu bertujuan membentuk individu yang mempunyai derajat tertinggi menurut ukuran Allah sedangkan isi pendidikannya adalah ajaran Allah.[8]
Menurut Drs. D Marimba pendidikan Islam ialah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkna hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[9]
Hasil rumusan seminar pendidikan Islam se indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam: “sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.[10]
Oleh karena itu ditinjau dari aspek pengamalannya pendidikan Islam berwatak akomodatif kepada tuntutan kemajuan zaman yang ruang lingkupnya pada kerangka acuan norma-norma keislaman. Karena pada dasarnya mausia dicipkan telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten yang potensi ini memerlukan perkembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap terutama pada usia dini.[11]
Apabila kita menyebut pendidikan Islam konotasinya sering dibatasi pada pendidikan agama Islam. Padahal kita kaitkan dengan kurikulum pada pendidikan formal atau nonformal pendidikan Islam hanya terbatas pada bidang-bidang study agama seperti tauhid, fiqih, tarikh Nabi, membaca Al-Qur’an, tafsir dan hadist.[12] Pendidikan Islam tidak lain hanya meliputi pengajaran teologi atau pengajaran     al-Quran, hadist, fiqih tetapi memberi arti pendidikan di semua cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan dari sudut pandang Islam.[13]

C.    Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai Materi dan Media Pendidikan Islam
Dalam persfektif Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi  merupakan hasil pengembangan potensi manusia yang diberikan Allah berupa akal, prestasi gemilang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada hakikatnya tidak hanya sekedar menemukan proses sunnatullah itu terjadi di alam semesta ini, bukan menciptakan dan merancang suatu hukum baru diluar sunnatullah ( hukum alam).
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi terdapat hubungan harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul Islam.
Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi dan Allah akan menempatkan posisi orang yang beriman dan berilmu pada derajat yang mulia. Hal ini dengan jelas ditegaskan dalam Al-Qu’ran surah al-Mujadalah ayat 11 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Artinya : “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[14]

1.      Ilmu Pengetahuan sebagai Materi Pendidikan Islam
Semua jenis ilmu yang dikembangkan para ahli pikir Islam dari kandungan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
Al-Farabi mengklasifikasikan ilmu-ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an meliputi sebagai berikut:
a.       Ilmu bahasa.
b.      Logika
c.       Sains persiapan dari ilmu berhitung, geometri, optika, sains tentang benda-benda samawi seperti astronom; ilmu pengukuran (timbangan), ilmu tentang pembuatan instrumen-instrumen, dan sebagainya.
d.      Fisika (ilmu alam) dan metafisika (ilmu tentang alam di balik alam nyata).
Ilmu fisika terdiri dari berbagai jenis ilmu seperti ilmu-ilmu yang berkaitan dengan benda alam, dan elemen-elemennya, ciri-ciri dan hukumnya, serta faktor-faktor yang merusaknya, tentang reaki unsur-unsur dalam benda atau sifat-sifatnya yang membentuk benda itu, ilmu-ilmu mineral, tumbuhan-tumbuhan,dan hewan.
Sedangkan ilmu metafisika meliputi ilmu tentang hakikat benda, ilmu tentang sains khusus dan sains pengamatan, ilmu tentang benda yang tidak berjasad.
e.       Ilmu kemasyarakatan terdiri dari jurisprudensi (hukum atau syariah) dan ilmu retorika (ilmu berpidato).
Menurut pandangan Prof. Dr. Mohammad Fadhil al-Djamaly, semua jenis ilmu yang terkandung di dalam Al-Quran harus diajarkan kepada anak didik. Ilmu-ilmu tersebut meliputi: ilmu agama, sejarah, ilmu falak, ilmu bumi, ilmu jiwa, ilmu kedoketran, ilmu pertanian, biologi, ilmu hitung, ilmu hukum, perundang-undangan, ilmu kemasyarakatan (sosiologi), ilmu ekonomi, balaghah, ilmu bahasa Arab, ilmu pembelaan Negara, dan ilmu yang dapat mengembangkan kehidupan umat manusia dan mempertinggi derajatnya.
Jenis-jenis ilmu pengetahuan dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:
a.       Ilmu pengetahuan menurut kuantitas yang mempelajari
1)      Ilmu fardhu’ain, yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber dari Kitab Allah.
2)      Ilmu fardhu kifayah, yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim,  seperti ilmu yang berkaitan dengan masalah duniawi, misalnya ilmu hitung, kedokteran, teknik, pertanian, industry, dan sebagainya.
b.      Ilmu pengetahuan menurut fungsinya
1)      Ilmu tercela (madzmumah), yaitu ilmu yang tidak berguna untuk masalah dunia dan masalah akhirat, serta mendatangankan kerusakan, misalnya ilmu sihir, nuqomah, nujum dan ilmu perdukunan.
2)      Ilmu terpuji (mahmudah), yaitu ilmu-ilmu agama yang dapat menyucikan jiwa dan menghindarkan hal-hal yang buruk, serta ilmu yang dapat mendekati diri manusia kepada Allah SWT.
3)      Ilmu terpuji dalam batas-batas tertentu, dan tidak boleh dipelajari secara mendalam, karena akan mendatangkan ateis (ilhad) seperti ilmu filsafat. (Saad Mursi Ahmad dan Sa’id Ismail Ali, 1974: 128)
c.       Ilmu pengetahuan menurut sumbernya
1)      Ilmu syar’iyyah yaitu ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu Illahi dan sabda Nabi Muhammad SAW.
2)      Ilmu ‘aqliyyah yaitu ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen serta akulturasi.
Menurut Ibnu Sina, Ilmu pengetahuan ada 2 jenis yaitu, ilmu Nadhory ( teoritis ) dan ilmu Amaly ( praktis ). Yang tergolong ilmu nadhory ialah ilmu alam, dan ilmu Riyadhi ( ilmu urai atau matematika ). Adapun ilmu amaly adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia dilihat dari segi tingkah laku individunya. Ilmu ini menyangkut ilmu ahlaq. Dan bila di lihat dari segi tingkah laku dalam hubungannya dengan orang lain, maka ilmu ini termasuk ilmu siasat ( politik ).
Adapun ilmu pengetahuan yang harus menjadi materi pendidikan dalam Islam. Al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai berikut:
a.         Ilmu Al-Qur’an dan ilmu agama seperti :  Fiqh, Hadits, dan Tafsir.
b.         Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj dan lafadz-lafadznya, karena ilmu ini membantu ilmu agama.
c.         Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi yang beraneka macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.
d.        Ilmu kebudayaan seperti syair, sejarah, dan beberapa cabang filsafat. [15]
Dari uraian di atas, maka harus dijadikan subtansi kurikulum lembaga-lembaga Pendidikan Islam, meskipun bentuknya harus diadakan modifikasi, formulasi ataupun penyempurnaan sesuai dengan tuntutan masyarakat setempat dan kebutuhannya, mengingat lembaga pendidikan adalah cermin dari cita-cita masyarakat.

2.      Teknologi sebagai Media Pendidikan Islam
Teknologi secara etimologi berasal dari kata techno yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu obyek atau kecakapan tertentu dan logos berasal dari kata logi yang berarti mengacu pada makna tata pikir. Secara terminologi dalam pengertian yang luas adalah kemampuan manusia (masyarakat) untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam untuk kepentingan hidupnya.[16]
Secara umum teknologi pendidikan diartikan sebagai media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran disamping guru, buku dan papan tulis. Teknologi pendidikan mensyaratkan prosedur, ide, peralatan dan organisasi yang dikaji secara sistematis, logis dan ilmiah. Pengertian ini mengandung asumsi bahwa sebenarnya media teknologi tertentu tidak secara khusus dibuat untuk teknologi pendidikan. Dia berupa media teknologi yang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan pendidikan.
Penggunaan teknologi sangatlah bermanfaat dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Karena pendidikan Islam merupakan sub system Pendidikan Nasional Indonesia. Perjalanan pendidikan Islam tidak terlepas dari pasang surutnya system pendidikan Islam itu sendiri, sebagaimana tidak terlepasnya umat Islam ketika kita membiarkan nasib bangsa ini, dan bahkan pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang di Indonesia yang telah ikut mewarnai kehidupan bangsa ini baik masa sebelum penjajahan bahkan setelah Indonesia merdeka.
Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, di mana masyarakatnya mayoritas memeluk Agama Islam, seharusnya pendidikan Islam mendasari pendidikan-pendidikan lainnya, serta menjadi primadona bagi peserta didik, orang tua, maupun masyarakat. Demikian juga halnya dalam upaya peningkatan mutu pendidikan seharusnya pendidikan Islam dijadikan tolok ukur dalam membentuk watak dan pribadi peserta didik, serta membangun moral bangsa.
 Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah, maupun para pakar pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan tak terkecuali pendidikan Islam sudah sejak lama namun hasil yang dicapai belumlah maksimal. Upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan masih bersifat parsial, terkotak-kotak dan tidak komprehensif. Sehingga wajar apabila output peserta didik dari pendidikan Islam kurang memberikan hasil yang maksimal baik terhadap peserta didik, orang tua, maupun masyarakat.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan ini maka teknologi pendidikan dalam pendidikan Islam juga diterapkan agar dapat mendukung pendidikan Islam itu sendiri. Penggunaan teknologi dalam praktek pendidikan Islam harus juga melihat situasi dan kondisi di mana teknologi pendidikan itu akan digunakan dalam praktek pendidikan Islam.
Jangan salah mengartikan bahwa teknologi pendidikan tidak hanya berhubungan dengan peralatan teknik dan media yang dipakai dalam pendidikan, seperti : overhead, projector, televisi, slide projector, audio tape, rekaman video dan sebagainya.
Teknologi pendidikan memiliki arti yang lebih luas dari penjelasan di atas, teknologi pendidikan dapat didefinisikan pengembangan, penerapan dan evaluasi system, teknik dan alat untuk tujuan meningkatkan proses belajar mengajar bagi manusia. jadi dalam prakteknya teknologi pendidikan dalam pendidikan bukan hanya penggunaan alat-alat elektronik dalam pembelajaran di kelas tetapi di luar itu teknologi pendidikan juga memiliki peran.[17]

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat saya ambil dari uraian di atas ialah bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi  merupakan hasil pengembangan potensi manusia yang diberikan Allah berupa akal, prestasi gemilang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada hakikatnya tidak hanya sekedar menemukan proses sunnatullah itu terjadi di alam semesta ini, bukan menciptakan dan merancang suatu hukum baru diluar sunnatullah ( hukum alam).
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi terdapat hubungan harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul Islam.
Pendidikan Islam juga identik dengan aspek-aspek pengajaran ilmu pengetahuan (Agama Islam) karena materi yang terkandung di dalamnya merupakan integrasi (perpaduan) yang saling melengkapi  satu dengan yang lainnya.
Dan dengan adanya media teknologi,  membuat pendidikan Islam lebih produktif. Media teknologi pendidikan telah menunjukkan kemampuannya dalam meningkatkan proses pembelajaran yang  memungkinkan bagi guru untuk memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, Cet, 1, Fak.Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta,  2001

Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, PT. Al Ma’arif, Bandung, 1981

Ahmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992

Ali Ashrof, Horison Baru Pendidikan Islam, terj. Soni Siregar, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987

Bulian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, PT. Al Ma’arif, Bandung, 1981

H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Bumi Aksara, Jakarta, 1991

Horton, P, B., Chester, L, H. Sosiologi. Erlangga, Jakarta, 1999


Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Pabelan Jaya Alam, Jakarta, 1996

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI, Al-Qur’an Per-Kata Transliterasi Latin, Cordoba, Bandung, 2016

M. Arifin, Ilmu Pengetahuan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta 2014

Mansur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, Global Pustaka Utama, Yogyakarta, 2001

Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta 1979

Rois Mahmud , Al-Islam  Pendidikan Agama Islam, Erlangga, Jakarta, 2011


[1] Lihat Ibn Majah dalam Sunan-nya(1/81)
[2] Horton, P, B., Chester, L, H. Sosiologi. (Jakarta: Erlangga, 1999)
[4] Abdurrahman Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Yokyakarta: Fak.Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, Cet. 1, 2001), hlm. 349
[5] Rois Mahmud , Al-Islam  Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Erlangga, 2011)  hlm. 177-178
[6] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm.11
[7] Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm.79
[8] Bulian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al Ma’arif, 1981), hlm.20
[9] Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al Ma’arif, 1981), hlm.20
[10] Keputusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia di Cipayung Bogor tgl. 7-11 Mei 1960
[11] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Pabelan Jaya Alam, 1996), hlm.63
[12] Ahmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1992), hlm.19
[13] Ali Ashrof, Horison Baru Pendidikan Islam, terj. Soni Siregar, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), hlm.85-86
[14] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI, Al-Qur’an Per-Kata Transliterasi Latin, (Bandung: Cordoba, 2016), hlm.543
[15] M. Arifin, Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), hlm.137
[16] Mansur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2001), hlm.42
[17] Nasruddin Hasibuan, Penerapan Teknologi dalam Pendidikan Islam, Jurnal (Studi Multidisipliner Vol.2, 2015), hlm.40-41

1 komentar: