PENDAHULUAN
Peran Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada
dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai
paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam,
bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini
menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah
fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menjadi Aqidah Islam
sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi
segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu
pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan,
sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh
diamalkan. Kedua,
menjadikan Syari’ah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar
bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang
seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat
(pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini
mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi,
didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam).
Pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah
kepada Allah SWT. Ada banyak cara untuk beribadah kepada Allah SWT seperti
sholat, puasa, dan menuntut ilmu. Menuntut ilmu ini hukumnya wajib. Seperti
sabda Rasulullah SAW:
طَلَبُ
العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَىْ كُلِّ مُسْلِمٍ[1]
Artinya : " Menuntut ilmu
merupakan kewajiban bagi setiap muslim" [ H.R. Ibnu Majah ]
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Yang
dimaksud dengan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didasarkan atas
fakta-fakta di mana pengujian kebenarannya diatur menurut suatu tingkah laku
sistem. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah
pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode
tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu.
Ilmu
pengetahuan menurut Horton, P, B., dan Chester L, H merupakan upaya pencarian
pengetahuan yang dapat diuji dan diandalkan, yang dilakukan secara sistematis
menurut tahap-tahap yang teratur dan berdasarkan prinsip-prinsip serta prosedur
tertentu.[2]
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh
pengetahuan yang disusun sebagai berikut:
1.
Ontologis, dapat diartikan sebagai hakikat apa yang
dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas ruang lingkup wujud yang menjadi objek
penelaahannya, dengan kata lain ontologis merupakan objek formal dari suatu
pengetahuan
2.
Epistemologis, dapat diartikan sebagai cara bagaimana
materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan
3.
Aksiologis, merupakan asas menggunakan ilmu pengetahuan
atau fungsi dari ilmu pengetahuan.[3]
Secara
etimologi, istilah “teknologi” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris;
“technology’. Menurut Leksikon, dikutip
dalam bukunya Abdurrahman, technology berarti: “1. Scientific study and use of
mechanical arts and applied sciences, eg. Engineering. 2. Application of this
to practical tasks in industry, ect: recent advances in medical technology,
technology of computers.”[4]
Dari
definisi Leksikon, dapat diambil beberapa pemahaman. Teknologi adalah
“sciencetific study” yang berarti kajian, telaah, penelitian yang sistematis,
ilmiah. Dengan kata lain tekhnologi adalah “ilmu” dalam pengertian yang sangat
luas. Kedua, teknologi adalah “mechanical arts”; alat-alat bermesin. Ketiga,
teknologi berarti “applied science”; ilmu-ilmu terapan atau ilmu-ilmu praktis.
Keempat, teknologi berarti “application of this to practical task”; aplikasi
dari ilmu dan alat-alat untuk kepentingan atau pekerjaan harian. Dengan
demikian teknologi bukanlah sekedar alat-alat bermesin. Lebih dari itu,
teknologi adalah ilmu dan bagaimana alat-alat serta ilmu tersebut
diaplikasikan.
Berikut
ini definisi teknologi menurut para ahli :
Menurut
Prayitno dalam Ilyas (2001), teknologi adalah seluruh perangkat ide, metode,
teknik benda-benda material yang digunakan dalam waktu dan tempat tertentu
maupun untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Menurut Jaques
Ellul memberi arti teknologi sebagai ”keseluruhan metode yang secara rasional
mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia”.
Menurut Rois Mahmud, teknologi merupakan produk sains atau (ilmu
pengetahuan), dengan teknologi sesuatu yang sulit akan mudah, sesuatu mustahil
yang dilakukan menjadi mungkin. Teknologi selain merupakan aktualisasi ilmu
pengetahuan, juga sebagai wujud peradapan manusia dengan zamannya. Teknologi
yang dihasilkan suatu bangsa tidak selalu sama dengan yang dihasilkan oleh
suatu bangsa yang lainnya terhadap pengembangan ilmu, semakin tinggi kepedulian
suatu bangsa terhadap perkembangan ilmu, semakin tinggi juga pencapaian
teknologinya. Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan satu unsur budaya
sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan.[5]
Wikipedia.org mendefinisikan teknologi merupakan
perkembangan suatu media / alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna
memproses serta mengendalikan suatu masalah.
Kesimpulannya dari keduanya di atas adalah ilmu pengetahuan mempunyai
teori-teori atau rumus-rumus yang tetap, dan teknologi merupakan praktek atau
ilmu terapan dari teori-teori yang berasal dari ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi saling mempunyai hubungan. Jika
tidak ada ilmu pengetahuan, teknologi tidak akan ada.
B. Pengertian
Pendidikan Islam
Pengertian Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan
kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai cita-cita Islam karena
nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya. Dengan
istilah lain seorang muslim yang telah mendapatkan pendidikan Islam harus mampu
hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagai yang diharapkan oleh cita-cita Islam.
Sedangkan pengertian pendidikan Islam dengan sendirinya adalah suatu sistem
kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba
Allah. Oleh karena itu Islam mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia muslim
baik duniawi maupun ukhrawi.[6]
Pendidikan Islam, menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Tomy al-Syaebani,
diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya
atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui
proses kependidikanya yang perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islami.[7]
Dan suatu pendidikan itu dinamakan pendidikan Islam apabila pendidikan itu
bertujuan membentuk individu yang
mempunyai derajat tertinggi menurut ukuran
Allah sedangkan isi pendidikannya adalah ajaran Allah.[8]
Menurut Drs. D Marimba pendidikan Islam ialah bimbingan
jasmani dan rohani berdasarkna hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya
kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[9]
Hasil rumusan seminar pendidikan Islam se indonesia tahun 1960, memberikan
pengertian pendidikan Islam: “sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan
jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah
mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua
ajaran Islam.[10]
Oleh karena itu ditinjau dari aspek pengamalannya pendidikan Islam berwatak
akomodatif kepada tuntutan kemajuan zaman yang ruang lingkupnya pada kerangka
acuan norma-norma keislaman. Karena pada dasarnya mausia dicipkan telah
memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten yang potensi ini memerlukan perkembangan
melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap terutama pada usia
dini.[11]
Apabila kita menyebut pendidikan Islam konotasinya sering dibatasi pada pendidikan agama Islam.
Padahal kita kaitkan dengan kurikulum pada pendidikan formal atau nonformal
pendidikan Islam hanya terbatas pada bidang-bidang study agama seperti tauhid, fiqih,
tarikh Nabi, membaca Al-Qur’an, tafsir dan hadist.[12]
Pendidikan Islam tidak lain hanya meliputi pengajaran teologi atau pengajaran al-Qur’an, hadist, fiqih tetapi memberi arti
pendidikan di semua cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan dari sudut pandang Islam.[13]
C. Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi sebagai Materi dan Media Pendidikan Islam
Dalam persfektif Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil pengembangan potensi manusia
yang diberikan Allah berupa akal, prestasi gemilang dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, pada hakikatnya tidak hanya sekedar menemukan proses
sunnatullah itu terjadi di alam semesta ini, bukan menciptakan dan merancang
suatu hukum baru diluar sunnatullah ( hukum alam).
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi
terdapat hubungan harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem
yang disebut dinul Islam.
Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi dan Allah akan
menempatkan posisi orang yang beriman dan berilmu pada derajat yang mulia. Hal
ini dengan jelas ditegaskan dalam Al-Qu’ran surah al-Mujadalah ayat 11 :
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) @Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿt ª!$# öNä3s9 ( #sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
Artinya : “Hai
orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui
apa yang kamu kerjakan.”[14]
1.
Ilmu Pengetahuan sebagai Materi Pendidikan Islam
Semua jenis ilmu yang dikembangkan
para ahli pikir Islam dari kandungan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan sebagai
berikut.
Al-Farabi mengklasifikasikan ilmu-ilmu
yang bersumber dari Al-Qur’an meliputi sebagai berikut:
a.
Ilmu bahasa.
b.
Logika
c.
Sains persiapan dari ilmu berhitung, geometri, optika, sains
tentang benda-benda samawi seperti astronom; ilmu pengukuran (timbangan), ilmu
tentang pembuatan instrumen-instrumen, dan sebagainya.
d.
Fisika (ilmu alam) dan metafisika (ilmu tentang alam di balik alam
nyata).
Ilmu fisika terdiri dari berbagai jenis ilmu seperti ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan benda alam, dan elemen-elemennya, ciri-ciri dan hukumnya,
serta faktor-faktor yang merusaknya, tentang reaki unsur-unsur dalam benda atau
sifat-sifatnya yang membentuk benda itu, ilmu-ilmu mineral,
tumbuhan-tumbuhan,dan hewan.
Sedangkan ilmu metafisika meliputi ilmu tentang hakikat benda, ilmu
tentang sains khusus dan sains pengamatan, ilmu tentang benda yang tidak
berjasad.
e.
Ilmu kemasyarakatan terdiri dari jurisprudensi (hukum atau syariah)
dan ilmu retorika (ilmu berpidato).
Menurut pandangan Prof. Dr. Mohammad
Fadhil al-Djamaly, semua jenis ilmu yang terkandung di dalam Al-Quran harus
diajarkan kepada anak didik. Ilmu-ilmu tersebut meliputi: ilmu agama, sejarah,
ilmu falak, ilmu bumi, ilmu jiwa, ilmu kedoketran, ilmu pertanian, biologi,
ilmu hitung, ilmu hukum, perundang-undangan, ilmu kemasyarakatan (sosiologi),
ilmu ekonomi, balaghah, ilmu bahasa Arab, ilmu pembelaan Negara, dan ilmu yang
dapat mengembangkan kehidupan umat manusia dan mempertinggi derajatnya.
Jenis-jenis ilmu pengetahuan dapat
dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:
a.
Ilmu pengetahuan menurut kuantitas yang mempelajari
1)
Ilmu fardhu’ain, yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim
yang bersumber dari Kitab Allah.
2)
Ilmu fardhu kifayah, yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian
orang muslim, seperti ilmu yang
berkaitan dengan masalah duniawi, misalnya ilmu hitung, kedokteran, teknik,
pertanian, industry, dan sebagainya.
b.
Ilmu pengetahuan menurut fungsinya
1)
Ilmu tercela (madzmumah), yaitu ilmu yang tidak berguna untuk
masalah dunia dan masalah akhirat, serta mendatangankan kerusakan, misalnya
ilmu sihir, nuqomah, nujum dan ilmu perdukunan.
2)
Ilmu terpuji (mahmudah), yaitu ilmu-ilmu agama yang dapat
menyucikan jiwa dan menghindarkan hal-hal yang buruk, serta ilmu yang dapat
mendekati diri manusia kepada Allah SWT.
3)
Ilmu terpuji dalam batas-batas tertentu, dan tidak boleh dipelajari
secara mendalam, karena akan mendatangkan ateis (ilhad) seperti ilmu filsafat.
(Saad Mursi Ahmad dan Sa’id Ismail Ali, 1974: 128)
c.
Ilmu pengetahuan menurut sumbernya
1)
Ilmu syar’iyyah yaitu ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu Illahi dan
sabda Nabi Muhammad SAW.
2)
Ilmu ‘aqliyyah yaitu ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah
mengadakan eksperimen serta akulturasi.
Menurut Ibnu Sina, Ilmu pengetahuan
ada 2 jenis yaitu, ilmu Nadhory ( teoritis ) dan ilmu Amaly ( praktis ). Yang
tergolong ilmu nadhory ialah ilmu alam, dan ilmu Riyadhi ( ilmu urai atau
matematika ). Adapun ilmu amaly adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku
manusia dilihat dari segi tingkah laku individunya. Ilmu ini menyangkut ilmu
ahlaq. Dan bila di lihat dari segi tingkah laku dalam hubungannya dengan orang
lain, maka ilmu ini termasuk ilmu siasat ( politik ).
Adapun ilmu pengetahuan yang harus
menjadi materi pendidikan dalam Islam. Al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu
pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai berikut:
a.
Ilmu Al-Qur’an dan ilmu agama seperti : Fiqh, Hadits, dan Tafsir.
b.
Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj dan lafadz-lafadznya, karena
ilmu ini membantu ilmu agama.
c.
Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika,
teknologi yang beraneka macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.
d.
Ilmu kebudayaan seperti syair, sejarah, dan beberapa cabang
filsafat. [15]
Dari uraian di atas, maka harus
dijadikan subtansi kurikulum lembaga-lembaga Pendidikan Islam, meskipun
bentuknya harus diadakan modifikasi, formulasi ataupun penyempurnaan sesuai
dengan tuntutan masyarakat setempat dan kebutuhannya, mengingat lembaga
pendidikan adalah cermin dari cita-cita masyarakat.
2.
Teknologi sebagai Media Pendidikan Islam
Teknologi secara etimologi berasal
dari kata techno yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional
yang berkaitan dengan pembuatan suatu obyek atau kecakapan tertentu dan logos
berasal dari kata logi yang berarti mengacu pada makna tata pikir. Secara
terminologi dalam pengertian yang luas adalah kemampuan manusia (masyarakat)
untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam untuk kepentingan hidupnya.[16]
Secara umum teknologi pendidikan
diartikan sebagai media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang
dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran disamping guru, buku dan papan
tulis. Teknologi pendidikan mensyaratkan prosedur, ide, peralatan dan
organisasi yang dikaji secara sistematis, logis dan ilmiah. Pengertian ini
mengandung asumsi bahwa sebenarnya media teknologi tertentu tidak secara khusus
dibuat untuk teknologi pendidikan. Dia berupa media teknologi yang dimanfaatkan
untuk tujuan-tujuan pendidikan.
Penggunaan teknologi sangatlah
bermanfaat dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Karena pendidikan
Islam merupakan sub system Pendidikan Nasional Indonesia. Perjalanan pendidikan
Islam tidak terlepas dari pasang surutnya system pendidikan Islam itu sendiri,
sebagaimana tidak terlepasnya umat Islam ketika kita membiarkan nasib bangsa
ini, dan bahkan pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang di Indonesia yang
telah ikut mewarnai kehidupan bangsa ini baik masa sebelum penjajahan bahkan
setelah Indonesia merdeka.
Dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia, di mana masyarakatnya mayoritas memeluk Agama Islam, seharusnya
pendidikan Islam mendasari pendidikan-pendidikan lainnya, serta menjadi
primadona bagi peserta didik, orang tua, maupun masyarakat. Demikian juga
halnya dalam upaya peningkatan mutu pendidikan seharusnya pendidikan Islam
dijadikan tolok ukur dalam membentuk watak dan pribadi peserta didik, serta
membangun moral bangsa.
Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah, maupun
para pakar pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan tak terkecuali
pendidikan Islam sudah sejak lama namun hasil yang dicapai belumlah maksimal.
Upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan masih bersifat parsial, terkotak-kotak
dan tidak komprehensif. Sehingga wajar apabila output peserta didik dari
pendidikan Islam kurang memberikan hasil yang maksimal baik terhadap peserta
didik, orang tua, maupun masyarakat.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan
ini maka teknologi pendidikan dalam pendidikan Islam juga diterapkan agar dapat
mendukung pendidikan Islam itu sendiri. Penggunaan teknologi dalam praktek
pendidikan Islam harus juga melihat situasi dan kondisi di mana teknologi
pendidikan itu akan digunakan dalam praktek pendidikan Islam.
Jangan salah mengartikan bahwa
teknologi pendidikan tidak hanya berhubungan dengan peralatan teknik dan media
yang dipakai dalam pendidikan, seperti : overhead, projector, televisi, slide
projector, audio tape, rekaman video dan sebagainya.
Teknologi pendidikan memiliki arti
yang lebih luas dari penjelasan di atas, teknologi pendidikan dapat
didefinisikan pengembangan, penerapan dan evaluasi system, teknik dan alat untuk
tujuan meningkatkan proses belajar mengajar bagi manusia. jadi dalam prakteknya
teknologi pendidikan dalam pendidikan bukan hanya penggunaan alat-alat
elektronik dalam pembelajaran di kelas tetapi di luar itu teknologi pendidikan
juga memiliki peran.[17]
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari uraian di atas ialah
bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi
merupakan hasil pengembangan potensi manusia yang diberikan Allah berupa
akal, prestasi gemilang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada
hakikatnya tidak hanya sekedar menemukan proses sunnatullah itu terjadi di alam
semesta ini, bukan menciptakan dan merancang suatu hukum baru diluar
sunnatullah ( hukum alam).
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi
terdapat hubungan harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem
yang disebut dinul Islam.
Pendidikan Islam juga identik dengan aspek-aspek
pengajaran ilmu
pengetahuan (Agama Islam) karena materi yang terkandung
di dalamnya merupakan integrasi (perpaduan) yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Dan dengan adanya media teknologi, membuat pendidikan Islam lebih produktif.
Media teknologi pendidikan telah menunjukkan kemampuannya dalam meningkatkan
proses pembelajaran yang memungkinkan
bagi guru untuk memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman
Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, Cet, 1, Fak.Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001
Ahmad D
Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, PT. Al Ma’arif, Bandung,
1981
Ahmadi, Islam
sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992
Ali Ashrof, Horison
Baru Pendidikan Islam, terj. Soni Siregar, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987
Bulian Somad, Beberapa
Persoalan Dalam Pendidikan Islam, PT. Al Ma’arif, Bandung, 1981
H. M. Arifin, Ilmu
Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner, Bumi Aksara, Jakarta, 1991
Horton, P, B.,
Chester, L, H. Sosiologi. Erlangga, Jakarta, 1999
Jalaluddin, Psikologi
Agama, PT. Pabelan Jaya Alam, Jakarta, 1996
Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI, Al-Qur’an Per-Kata Transliterasi
Latin, Cordoba, Bandung, 2016
M. Arifin, Ilmu
Pengetahuan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta 2014
Mansur Isna, Diskursus
Pendidikan Islam, Global Pustaka Utama, Yogyakarta, 2001
Prof. Dr. Omar
Muhammad Al-Touny Al-Syaebany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan
Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta 1979
Rois Mahmud , Al-Islam Pendidikan Agama Islam, Erlangga, Jakarta,
2011
[1]
Lihat Ibn Majah dalam Sunan-nya(1/81)
[2] Horton,
P, B., Chester, L, H. Sosiologi. (Jakarta: Erlangga, 1999)
[3] http://intanayuda8.wordpress.com,
diakses 2018-05-09
[4] Abdurrahman
Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Yokyakarta: Fak.Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, Cet. 1, 2001), hlm. 349
[6] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu
Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner,
(Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm.11
[7] Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebany, Falsafah
Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1979), hlm.79
[8] Bulian Somad, Beberapa Persoalan Dalam
Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al Ma’arif, 1981), hlm.20
[13] Ali Ashrof, Horison Baru Pendidikan Islam,
terj. Soni Siregar, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1987), hlm.85-86
[14]
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI, Al-Qur’an Per-Kata
Transliterasi Latin, (Bandung: Cordoba, 2016), hlm.543
[15]
M. Arifin, Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014),
hlm.137
[16] Mansur
Isna, Diskursus Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Global Pustaka Utama,
2001), hlm.42
[17]
Nasruddin Hasibuan, Penerapan Teknologi dalam Pendidikan Islam, Jurnal
(Studi Multidisipliner Vol.2, 2015), hlm.40-41
semoga bermanfaat ya kak..
BalasHapusnumpang post kak APLIKASI KEKINIAN